Why I used WordPress?

WordPress adalah salah satu aplikasi blogger yang dapat digunakan sebagai kepentingan pribadi maupun bisnis. Pesaing terbesarnya adalah blogger.com yang biasa kita kenal dengan domain blogspot.com. Dilihat dari fungsinya, mereka memiliki kesamaan. Namun, ada beberapa hal yang menjadi alasan untukku menggunakan wordpress dibandingkan blogspot.

1. Interface konten menulis yang menarik.
Bagiku, untuk sebuah aplikasi teknologi, interface adalah hal yang terpenting. Terlepas dari kepribadian yang dominan visual atau tidak, banyak orang meninggalkan aplikasi lama karena telah ada aplikasi terbaru yang lebih baik dan mudah penggunaannya. Disinilah pentingnya seorang pebisnis aplikasi untuk selalu memperbaiki kualitasnya. Karena, di zaman globalisasi saat ini, persaingan bukan hanya terletak pada solusi yang diberikan namun juga kualitas dari solusi tersebut yang selalu terbarukan.

Blogger menyediakan penggunaan blog standard. Interface yang ditawarkan pun masih standard untuk penulisan konten blog. Namun, blogger ini sangat cocok untuk blog pemula karena sangat standar dan tidak sulit untuk menggunakannya.

WordPress menawarkan penggunaan blog yang lebih menarik dan banyak pilihan penggunaan didalamnya sehingga memudahkan penulis untuk berbagi sesuai keinginannya. Interface yang menarik membuat kita sebagai penulis semakin terinspirasi untuk menulis lagi, lagi dan lagi.

2. Perbedaan tema
Tema yang sesei ambil di blogger adalah mengenai keseharianku (my daily activity) sementara di wordpress adalah mengenai karyaku dan kecintaanku pada menulis (writer). Jadi, walaupun lebih menyukai interface wordpress dibandingkan blogger, sesei tetap menggunakan keduanya. Karena mereka memiliki sejarah tersendiri bagiku dalam setiap pembuatannya.

Blogger: sheilaersa.blogspot.com
WordPress: sheilaersa.wordpress.com

3. Belajar untuk Genera
Genera adalah salah satu unit kegiatan mahasiswa yang mengasah keterampilan jurnalistik. UKM ini berada di Fakultas Pertanian Unpad. Saat ini, sesei sedang dalam masa magang.

Sebagai seorang editor, sesei harus memasukkan tulisan reporter yang telah diedit ke website generapersma.com. Sebagai seorang penulis website, sesei harus paham apa saja konten yang bisa digunakan agar tulisan yang diterbitkan dalam website menjadi lebih menarik. Dikarenakan sesei tidak mau menjadikan bahan berita yang dimasukkan web sebagai kelinci percobaan, sesei akan menggunakan web sesei sendiri sebagai percobaannya. Kalau mencoba sendiri kan tidak ada salahnya.

I think that’s all. Thankyou!

Akun sosial media
Facebook: Sheila Ruth Sartika
Twitter: @sheilaruthh
Instagram: @sheilaruthh
Ask.fm: @shellaruthh
Line: sheilarth
BBM: 5398EF2A
Path: Sheila Ruth Sartika
Youtube: Sheila Ruth Sartika
Tumblr: sheilaersa.tumblr.com
Blogger: sheilaersa.blogspot.com
WordPress: sheilaersa.wordpress.com

Laskar Genera 7: Rapat Redaksi 2

Untuk editor:
-Upload online hanya disimpan di draft saja, tidak langsung upload.
-Add images. Agar picture muncul.
-Penggalan/caption boleh.
-(LM/NAMA)
-editor: NAMA

Alur berita:
reporter → editor → upload dan email artistik

Email editor:
Editorgenera.online@gmail.com
Pass: genera567

nidaalyavivi@gmail.com

Username web:
1. editor1 : satueditoronline7
2. editor : editoronline7
3. editor2 : tigaeditoronline7

Email artistik:

-Akan ada pemilihan 10 berita terbaik
-Apabila masuk ke dalam 10 terbaik, maka beritanya dikirim ke email artistik dan fotonya di attachment bukan di word

Job:
Berita dari Anggie: Bussiness Plan! Vidi Depay Dei
Deadline: RABU, 6 APRIL 2016

Dihati Kita Ada Cinta: Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah

3 Hal Nikmatnya Iman
1. Mencintai Allah dan Rasul lebih dari segalanya.
Karena Allah-lah yang memberikan kita segalanya.
Dan cinta ini tidak hanya ucapan. Cinta ini harus masuk ke hati kita. Hal ini akan terlihat kebenaran cinta kita ketika kita dihadapkan pada masalah yg menyangkut pilihan antara Allah atau diri kita.

“Kalau semua orang benci kepadamu. Tak apa. Asalkan Allah cinta kepadamu.”

2. Dia tidak mencintai orang lain kecuali karena Allah.
Kenapa kau mencintai fulan? | Karena fulan dicintai Allah sehingga aku mencintainya.

Cinta seringnya dipenuhi oleh syahwat. Bahkan imannya digadaikan.

3. Dia benci untuk kembali kepada kekufuran.
Sebagaimana ia benci untuk dimasukkan ke dalam api neraka.

**

Lalu, apa bukti kecintaan kita kepada Allah?
– Apapun yang Allah minta kita taati.
– Apapun yang Allah larang kita jauhi.

Tanda kecintaan kepada Allah
1. Berdzikir kepada-Nya
Sebut nama-Nya lagi dan lagi.
Subhanallah. Alhamdulillah. Lailahailallah. Allahu Akbar.

Yang memberi segalanya adalah Allah. Yang memberi rizki adalah Allah. Yang membuat kita berusaha adalah Allah.

“Segala yang kita lakukan, bungkuslah dengan dzikrullah.”

Ingin hidup tenang.
Ingin terselesaikan masalah.
Ingin mendapatkan pertolongan.
Dzikrullah!

“Perbedaan orang yang tidak berdzikir dan berdzikir itu seperti bangkai dan orang hidup.”

Sebagai seorang muslim, kita mempunyai musuh namanya syaitan. Namun, banyak diantara kita berteman dengan syaitan. Melakukan kegiatan kerjanya syaitan.

Dzikrullah akan membawa kita mendekati Allah dan terjauh dari godaan syaitan.”

Ketika cinta datang ke hati kita, maka kita akan mencintai firman Allah.

Bagaimana cinta yang suci?
Surat cinta terindah adalah Al-Quran. Allah memulai suratnya dengan kasih sayangnya.

Bismillahirrahmanirrahiim
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Laa roi bafii huda lil muttaqin.”
Tak ada keraguan di dalamnya (Al-Quran).

Setiap kali membaca Al-Quran dan bertemu “Yaa ayyuhalladzi na amanu cari artinya! Itu adalah panggilan Allah untuk kita.

Al-Quran adalah petunjuk bagi seluruh umat.

Jangan sampai kita terlupa untuk membaca Al-Quran setiap hari!

Jangan pernah tidur sebelum kita membaca Al-Quran hari ini!

Kalau kau ingin melihat bukti kecintaannya kepada Allah, lihat bagaimana kecintaannya kepada Al-Quran dan bagaimana ketenangannya mendengarkan ayat Allah.

“Mendengarkan Al-Quran lebih nikmat dibandingkan mendengarkan musik lain.”

Karena musik lain itu kenikmatannya semu.

2. Merindukan rumah Allah
Mesjid itu adalah rumah Allah. Milik Allah. Merasakan kenikmatan berada di rumah Allah.

Kalau kamu sedang ada masalah. Jangan lari ke cafe. Jangan lari ke tempat hiburan. Jangan lari ke rumah sahabat. Larilah ke rumah Allah!

InsyaAllah disitu ada solusi.

Maka tumbuhkan rasa cinta kita kepada mesjid. Rasa ingin mendatangi mesjid.

“Barang siapa bertaqwa kepada Allah, maka Ia akan berikan kepada kita jalan keluar apapun masalah kita.”

3. Ridho kepada keputusan Allah.
Itulah yang membuat hidup di dunia ini nyaman.

“Kalau Allah cinta kepada seseorang, Ia akan beri cobaan agar kembali kepada-Nya.”

Karena semua takdir Allah itu baik untuk kita. Semuanya ada hikmahnya. Tidak ada yang main-main. Semuanya ada artinya. Ada kebaikannya.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Kapan kita bisa memuji Allah atas musibah?
Kita biasanya tidak nyaman, pusing stress, marah. Memangnya dengan begitu masalah bisa selesai? Tidak. Dengan ridho kepada cobaan Allah, kita bisa merasakan nikmat-Nya dan bisa menyelesaikannya.

Jadikan musibah itu menjadi nikmat dengan cinta kepada Allah.

Orang orang yang ridho kepada musibah karena Allah, ia akan
-Berhusnudzon
-Beristigfar

Karena musibah itu hanya berapa persen dari segala nikmat yang Allah berikan.

Tidak boleh seorang muslim diberi cobaan mengatakan, “Andaikata.” Penyesalan seperti itu akan membuka gerbang syaitan dan bentuk ketidakridhaan kita kepada takdir-Nya

4. Susah tidur malam untuk sholat malam
Setiap hari membuat dosa, mengapa kita tidak memohon ampun?

Larilah kalian kepada Allah!

5. Cinta kepada kekasih-Nya
Ketika kita mencintai seseorang maka kita juga mencintai kesukaannya.

“Barangsiapa yang membenci kepada kekasihku maka Allah mengumumkan perang kepadanya.”

6. Rindu melihat wajah Allah
Di dunia, kita tidak melihat tapi kita yakin Allah itu ada.

Bagi orang orang yg berbuat baik balasannya adalah surga. Dan ada tambahan. Yaitu, dapat melihat wajah-Nya. Mereka tidak akan merasakan kenikmatan yang lebih besar daripada melihat-Nya.

Kalau kita mencintai seseorang, ingin melihat walaupun dari jauh. Tapi, Allah itu ghaib. Kita juga ingin melihatnya.

7. Mengikuti sunnah Rasulullah
Katakan kepada orang orang yang mencintai Allah, ikuti Rasulullah.

Berikan cinta kepada Rasul, Allah akan berikan juga cinta-Nya.

Manusia itu tabiatnya suka mencontoh.

Say Something

Pagi mulai menampakkan sinarnya. Namun, pandangan ini masih terpaku ke arah ufuk timur, terkagum melihat indahnya mentari yang keluar dari peraduannya. Aku bukan tidak tahu harus pergi kemana. Aku sudah mempersiapkan diriku. Aku bukan pula memikirkan hal yang tidak-tidak. Aku hanya teringat kepadanya.
“Aku tak tahu mengapa kau muncul seperti ini.”
“Memangnya mengapa? Kau keberatan jika aku ingin berbagi kisah dan kegundahanku kepadamu?”
“Tidak. Bukan seperti itu yang aku maksud, Rama.”
“Lalu apa yang kau maksud? Apa kau benar-benar membenciku seperti yang lainnya lakukan padaku, Sara?”
“Mengapa kau menganggapku begitu? Apa aku menunjukkan hal yang sama?”
“Tidak. Hanya saja begitu aneh mendengar pertanyaanmu.”
Rama. Ia adalah seseorang yang aku sukai. Entah bagaimana aku menyimpan rasa untuknya bertahun-tahun selama pertemanan kita. Aku selalu sedia menemaninya kapanpun ia membutuhkanku. Bisa dibilang aku seperti bidadari di dalam perih. Namun akupun hanya abu di dalam tawa. Ia hanya datang kepadaku jika sedang membutuhkan seseorang. Namun, jika ia sedang berbahagia, tak sedikitpun ingat kepadaku. Sepanjang aku berteman dengannya. Sepanjang itulah aku menyukainya. Sepanjang itulah aku memendam rasa untuknya. Dan sepanjang itu pula aku menahan rasa sakit setiap kali ia memulai hubungan dengan para wanita. Hubungan yang spesial. Lebih di antara aku dan dia.
“Sara, apa aku boleh meminta bantuanmu?” tiba-tiba ia menelponku di pagi buta.
“Memangnya ada apa, Ram? Apa kau tidak tahu waktu? Ini masih pukul 3 pagi.” Aku kesal sambil mengusik mataku dan mencari tombol lampu kamar.
“Aku benar-benar butuh bantuanmu.”
“Iya, ada apa? Kau mulai membuatku khawatir. Cepat katakan, Rama!”
“Tapi katakan dulu, “Rama manis, ayo katakan!.”
“Apa maksudmu? Jadi siapa yang butuh bantuan? Ya sudah kalau begitu aku tutup teleponnya!”
“Sebentar. Jangan tutup dulu, Sar!”
“Makanya cepat katakan! Aku masih ngantuk!”
“Hmm, begini. Aku ingin bertanya. Kalau seorang perempuan ingin surprise party yang seperti apa?”
“Ini untuk perempuan yang mana? Haha.” ucapku sambil menahan sesak.
“Sara! Aku sudah tidak seperti itu lagi. Wanitaku hanya satu, Nina saja.”
“Baiklah. Begini…..”
Ya begitulah hubungan antara aku dan Rama. Kita begitu dekat sampai ia tak pernah menyadari bagaimana aku memendam rasa selama ini untuknya. Begitu sulit untuk memendam rasa ini sendirian dikala ia begitu dekat. Mengapa aku bisa bertahan selama ini? Mengapa aku begitu bodoh untuk hal seperti ini? Aku pun tak mengerti.
-.-
“Sara, ayo kita pulang bersama!”
“Sara, ayo kita makan bersama!”
“Sara.”
“Sara.”
“Sara.”
Sekarang. Begitu seringnya ia memanggil namaku. Begitu seringnya ia berada di dekatku dan bercanda bersamaku. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai merasa ada sesuatu yang tak biasa. Walaupun kita sudah berteman lama.
“Kau saat ini terus bersamaku. Bagaimana dengan wanitamu? Aku tak ingin menjadi perusak hubungan orang lain, Rama.”
“Mengapa kau menanyakan hal seperti itu? Kau tidak suka berada di dekatku?”
“Bukan itu maksudku. Aku hanya tak mengerti mengapa kau begini.”
“Kita telah memilih jalan kita masing-masing.”
“Apa maksudmu?”
“Begitulah. Ayo kita pergi beli es krim, Sar! Rasanya hari ini begitu panas.” ia menarik tanganku dan pergi bersamanya.
Rama berakhir dengan Nina. Padahal ia adalah wanita yang benar-benar membuatnya berubah. Setidaknya berubah untuk tak mempermainkan lebih banyak wanita lagi. Entah mengapa mereka berakhir. Aku ingin mencoba tahu, tapi Rama selalu membuatku berhenti untuk bertanya lagi tentang itu.
-.-
Rama menjadi begitu baik kepadaku. Ia memperlakukanku layaknya seorang wanita. Ia menemaniku kemanapun aku pergi. Ia memberiku lebih banyak perhatian dari sebelumnya. Apakah ini jawaban dari segala penantian panjangku?
“Rama, aku ingin pergi ke suatu tempat. Kau pasti menyukainya.” Pagi sekali aku sudah menyuruhnya keluar dari persembunyiannya yang hangat.
“Ada apa pagi buta begini, Sar? Aku masih mengantuk!”
“Kau pasti menyesal jika kau menolak permintaanku kali ini.”
“Kau pasti ingin jahil kepadaku ya?”
“Kau seperti mampu membaca diriku saja. Haha.”
“Iya, kan? Aku tak mau ikut kalau begitu. Kau saja pergi sendiri sana.”
“Kau jahat meninggalkan seorang wanita pergi sendirian!”
“Jahat bagaimana? Siapa yang ingin dijahili oleh cewek terjahil sedunia, hah?” sambil mencubit pipiku dengan manja.
“Aku tidak akan jahil untuk kali ini, Rama. Kau pasti menyukainya.”
“Bohong!”
“Aku berjanji.” aku mengacungkan jari kelingkingku.
“Janji?”
“Iya, janji!” Kita pun tersenyum sambil saling menautkan jari kelingking.
Sore itu kita menyusuri jalan menuju tempat yang aku inginkan. Setelah perjalanan beberapa jam yang menyenangkan di atas motor kesayangan Rama, kami pun tiba di tempat yang dituju. Pantai. Ya, Rama begitu menyukai pantai. Akupun begitu. Rasanya udara pantai adalah aroma yang selalu aku rindukan jika aku berada di tengah kesibukanku.
“Bagaimana? Kau menyukainya bukan?” ucapku sambil tersenyum.
“Sara! Mengapa kau begitu mengejutkanku?” ia pun tersenyum sambil memandangi alur pantai.
Disini. Aku ingin sekali mengutarakan perasaanku pada Rama. Tapi aku ingat lagi bahwa aku adalah seorang wanita. Akhirnya kukubur dalam-dalam keinginanku. Lebih baik aku menikmati suasana indah ini bersama Rama. Walaupun dia belum menjadi milikku namun dia kini berada di dekatku. Selalu.
“Beberapa menit lagi akan sunset. Ayo kita duduk disini saja!” ucap Rama sambil menepuk tempat untuk aku duduki.
“Ahh, baiklah. Terimakasih.”
“Sara.”
“Iya.”
“Apa aku boleh menceritakan sesuatu kepadamu?”
“Mengapa kau begitu canggung seperti ini, Ram?”
“Tidak. Hanya saja…”
“Ceritakan saja, Ram. Biasanya juga kau tak pernah meminta ijinku.”
“Sara. Mengapa aku sangat menyayangi Nina? Aku selalu ingin memperjuangkan dia. Aku sangat menyayanginya. Sudah berminggu-minggu kita tak berjumpa. Rasanya. Aku rindu sekali padanya, Sar..”
Aku hanya terdiam. Untuk beberapa saat aku tak bisa berkata-kata. Rama.
“Sara! Lihat itu sunset-nya sudah mulai. Ahh, begitu indahnya, bukan?”
“Hmm…”
Sunset itu begitu indah hingga mampu membuatku meneteskan air mata. Begitu sesak. Hingga aku menangis. Walau tanpa suara. Hingga gelap pun tiba. Hingga Rama pun tak menyadari begitu sakitnya menjadi diriku. Aku kira kau mulai menginginkanku. Aku kira kau begitu. Apa aku hanya menjadi pelampiasanmu? Apa aku selalu begitu bagimu? Apa aku tak pernah begitu spesial di matamu? Hingga kau sangat menyayangiku. Hingga kau begitu merinduku. Apa kau tak pernah begitu? Untukku? Sekali saja?
-.-
Kau. Tak sadarkah dirimu begitu lamanya aku menunggu?
Kepastian di antara kita. Apa yang sebaiknya terjadi di antara kita?
Aku tahu, aku tak layak memaksamu begitu.
Aku hanya serpihan abu yang beterbangan dihembuskan angin.
Aku hanya sosok yang begitu tak bermaknanya untukmu.
Karena aku bukan dia.
Karena kau tak memilih aku.
Tapi mengapa kau selalu ada begitu saja untukku?
Mengapa tak hilang seluruhnya saja dari hidupku jika yang kau pilih adalah dia?
Mengapa?
Mengapa kau perlakukan aku begini?
-.-
Untuk beberapa hari kita tak pernah lagi bersama. Sejak kejadian di pantai. Aku menjauhinya. Aku takut meneteskan air mata lagi. Apalagi jika itu terjadi di hadapannya. Aku takkan pernah sanggup.
Rama sendiripun kini sudah kembali bersama Nina. Dia semakin jarang terlihat di hadapanku. Aku tahu ia mencariku. Namun, aku tak mau bertemu dengannya. Itu sama dengan menggali luka untuk diriku sendiri.
Aku semakin menyibukkan diriku. Agar aku mampu melupakannya perlahan. Aku semakin sering berada di perpustakaan. Tempat yang tak disukai Rama. Agar aku tak melihatnya lagi. Agar cepat mengatasi hatiku.
“Sara! Rama ada di lantai bawah.” Noura dengan terengah-engah mendatangiku.
“Untuk apa dia ke perpustakaan? Apakah dia sudah sadar bahwa ia harus belajar?” ucapku dengan tertawa jahil.
“Menunggumu.”
“Menungguku? Kau ini ingin apa dariku, Noura? Jangan mengada-ngada.” aku tersenyum padanya.
“Aku serius.”
“Kalau benar, bilang saja aku sedang sibuk. Aku tak ingin diganggu. Mudah, kan?”
“Sara. Ini sudah kesekian kalinya. Kau sungguh tak ingin bertemu dengannya?”
“Sudah, tak perlu bertanya lagi. Cukup katakan saja begitu, Nouradama.” ucapku kesal menahan sesak.
“Sara..” Rama tiba-tiba datang ke hadapanku. Aku terhenyak. Rama. Apa yang kau lakukan disini?
“Ada apa denganmu, Sar?”
“Buat apa kau kemari?” aku tak berani memandangnya. Disatu sisi aku kesal. Namun, disisi lain, aku sangat merindunya. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan?
Aku berlalu mencari kembali buku yang aku butuhkan. Berpura-pura. Rama terus mengikutiku. Di belakangku. Rama dengan sabarnya menungguku. Mencoba mengerti perlahan. Hingga akhirnya, Rama menghentikanku.
“Mengapa kau menjauhiku seperti ini?” Rama begitu serius memandangiku.
“Aku…”
“Aku mencarimu kemanapun. Tapi, tak pernah aku bisa menemuimu.”
“….” aku terdiam.
“Banyak hal yang ingin aku ceritakan kepadamu. Namun kau hilang seperti diterbangkan angin.”
“Aku. Aku hanya sibuk, Rama. Maafkan aku.” aku berusaha mencari alasan. Namun, hanya  itu yang aku punya.
“Aku ingin menceritakan hal terbesar yang aku alami.”
“Apa itu? Apakah aku pernah melewatkan sesuatu dari dirimu?” ucapku sambil memaksakan tersenyum.
“Aku kembali bersama Nina. Sara. Terimakasih.” dia mengembangkan senyumnya yang semakin menyakiti hatiku.
“Aku sudah tahu.”
Aku balikkan badanku. Membiarkan Rama tak memandangiku lagi. Aku hanya bisa berujar dalam hati. Aku lelah seperti ini, Rama. Kau tahu. Aku. Aku sudah tak sanggup lagi menahan ini semua. Air mata itu mengalir dengan sendirinya tanpa sang pemiliknya tahu. Aku menutup wajahku dengan tangan mungilku. Aku tahan sekuatku agar suaraku tak terdengar. Aku masih berusaha menghentikan aliran air mataku. Sekuat tenagaku. Namun, aku tak bisa. Tetap tak bisa.
“Sara?” ucap Rama menepuk bahuku.
“Sebaiknya kau pergi, Ram. Biarkan Sara sendiri.” Noura menepuk pundak Rama. Rama pergi. Mencoba mengerti. Membawa pulang berbagai macam tanya dipikirannya. 
Aku terjatuh dalam pelukan Noura. Mengeluarkan segala tekanan yang aku rasa. Aku ingin menyerah untukmu, Rama. Aku tahu, aku akan menemukan kemungkinan terburuk bagi diriku. Dan perpecahan bagi kita. Maka ijinkan aku untuk mempersiapkan diriku.
-.-
Aku terbangun dari lamunanku. Ya, sudah aku putuskan. Aku harus akhiri ini semua. Aku rasa ini sudah terlalu lama. Dan aku tak mau hanya membuka hatiku padanya jika ia sendiri menutup hatinya untukku.
Aku sudah bersiap untuk semuanya. Aku akan menemui Rama di taman bermain yang sering kita jumpai untuk mengusir jenuh, menghabiskan waktu, bersenang-senang. Dan kini, untuk mengakhiri kita, Rama.
Dari jauh aku sudah melihat keberadaannya. Rama sudah cemas menungguku. Karena ini pertemuan yang tiba-tiba setelah sekian lama kita tak pernah bersua.
“Hai Rama!”
“Hai Sar! Kau dimana saja selama ini? Aku mencarimu namun kau seperti hilang ditelan waktu.” ucap Rama sambil tersenyum menatapku. Mata itu. Sorot matamu takkan bisa aku lupakan, Ram.
“Aku selalu ada, Rama. Aku tak pernah kemana-mana.” aku berusaha untuk tersenyum.
“Lalu, mengapa kau seperti ini sekarang?”
“Aku ingin memberitahu sesuatu kepadamu.”
“Katakanlah, Sar.”
“Aku ingin memberitahumu sesuatu yang tak pernah kau sadari selama ini.”
“Memangnya aku pernah melewatkan sesuatu tentangmu?” Rama mencoba mencairkan suasana.
“Ini.” Aku menyodorkan sebuah surat dan aku pergi meninggalkannya sendiri di bangku taman itu.
“Saraa! Hey!”
-.-
“Hai Rama.
Sudah lama bukan kita tak berjumpa.
Maaf jika pertemuan terakhir kita menjadi sesuatu yang tak menyenangkan.
Inilah yang ingin aku jelaskan.
Aku menyukaimu. Tapi, akhirnya aku menarik pada suatu kesimpulan bahwa, aku benar-benar bukan untukmu. Begitupun kau bukanlah untukku. Penyatuan pemikiran antara kau dan aku sepertinya tak menemukan titik temu. Jalan pikiran kita berbeda. Imajinasimu tak seperti imajinasiku.
Aku tersadar bahwa kita hanya bisa menjadi sepasang sahabat. Ketika kau butuh, aku selalu ada. Tapi, ketika aku membutuhkanmu, kau ada dimana?
Dari situlah aku menyadari bahwa kita tak bisa bersama.
Mari kita biarkan semua ini menjadi kenangan indah, antara kau dan aku. Kenangan masa remaja yang begitu konyol, mengharu biru dan menyenangkan.
Aku senang pernah kenal denganmu, pernah bercengkerama denganmu, bercerita suka duka denganmu, bercanda denganmu, bertengkar denganmu, bersaing denganmu dan berbahagia denganmu.
Walaupun hanya sekejap saja. Walaupun kau tak sekalipun menganggapku lebih. Tak mengapa. Aku bahagia karena kau pernah ada.
Selamat tinggal lelaki masa remajaku.
Terima kasih atas segalanya, Ramadhan.”

Aku Bukan Untukmu (Rakka)

Rakka masih diam dihadapanku. Menatapku dengan tatapan tajamnya. Aku melihatnya kembali. Mencoba meyakinkan apa maksud hati ini. Apakah ini yang kurasakan sama dengan yang kau rasakan?
Dia datang tanpa kuminta. Dia datang memang dia akan datang. Untukku. Berkali – kali dia datang. Hanya untukku. Walaupun seperti itu. Walaupun aku belum mengerti rasa ini. Tapi ia selalu datang. Datang berkali – kali hanya untukku.
Ia datang untukku. Untuk yang ketiga kalinya menyatakan kegundahan hatinya. Akan rasa yang tak biasa untukku. Setiap kali Rakka ucapkan kata – kata manis itu dari mulutnya dengan suaranya yang indah, aku hanya tersenyum. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku belum mengerti rasa ini untuknya. Memang terasa berbeda, tapi itukah rasa yang dimaksud?
Kau masih kembali kepadaku. Walaupun jawabanku untuk keberanian terdalammu hanya senyuman. Kau tak berpaling. Kau hanya kembali kepadaku. Berkali – kali. Meskipun ruang memisahkan kita. Kau tetap kembali. Untukku. Hanya untukku. Untuk aku yang masih tak mengerti apa arti rasa yang kurasa.
Dahulu kau begitu. Dahulu kau hanya untukku.
Dahulu kau sangat mencintaiku.
Dahulu.
Itu kau yang dahulu.
 
Aku belajar darimu. Bagaimana rasa itu tumbuh perlahan. Bagaimana ketulusanmu ku rasa benar. Aku belajar darimu. Rakka. Mengajarkanku rasa ini. Rasa tulusku yang mulai kurasa. Rasa yang mungkin dari dulu telah Rakka rasakan untukku.
Aku mulai meyakini hati ini. Perasaan ini memang perasaan yang berbeda dari yang kurasakan. Aku kini berharap ia datang kepadaku untuk menyatakan perasaannya untuk kubalas. Aku takkan membalas itu dengan senyuman saja. Akan aku balas dengan perasaanku. Dengan jawaban yang selalu Rakka nantikan dari mulutku. Dari hatiku untukmu. Rakka.
Tapi, ia tak pernah datang lagi untukku. Dia tak pernah ucapkan itu lagi untukku. Aku tak pernah ucapkan ini padanya.
Rakka telah pergi. Dengan jiwa dan raganya. Takkan pernah datang lagi untukku. Takkan ucapkan itu lagi untukku. Ucapan yang kini setiap hari aku tunggu. Untuk ku jawab dengan hatiku yang tulus untuknya.
Rakka telah meninggalkanku. Dengan kata – kata terakhirnya yang hanya kujawab dengan senyuman. Dengan pikiran masih tak mengerti dengan apa yang terjadi diantara hatiku dan hatinya. Hati Rakka. Hati yang kini aku selalu tunggu untuk kembali kepadaku. Dengan hatinya aku akan jawab dengan hatiku.
Kini setiap saat ku masih mengharapkanmu. Mengharapkan hal yang akan terjadi jika ku lakukan ini sebelum kau pergi. Sebelum Rakka meninggalkanku. Senyumanku padanya takkan pernah kulupakan. Aku mohon maafkan senyuman ini. Rakka. Untuk kaulah senyuman itu. Selalu untukmu bagiku.
 
Senyuman itu memang tak selalu kau anggap tulus. Senyuman itu pasti kau artikan dengan ledekan. Rakka. Itu bukan maksudku. Hatimu selalu menangis untukku. Untuk senyumanku. Untuk jawabanku atas keberanian perasaanmu itu padaku. Aku menyesal untuk senyuman ini. Jangan pernah kau lihat senyuman ini lagi. Takkan ku biarkan hatimu menangis dengan senyuman tulusku padamu. Hati Rakka. Senyumanku sebenarnya tulus untuk hati Rakka.
Rakka mungkin lelah denganku. Dengan senyumanku yang meledeknya. Rakka memilih orang lain. Wanita yang memberikan jawaban hatinya bukan hanya dengan senyuman. Tapi dengan jawaban kepastian di waktu yang tepat. Di waktu dimana Rakka menginginkan jawaban perasaannya itu padanya.
Kini, aku yang menangis. Hatiku yang menangis bukan hanya dengan senyumanmu. Tapi dengan perkataanmu padaku. Kita memang bersahabat. Tapi haruskah kau ceritakan padaku tentangnya ketika kini kumulai mengharapkanmu?
Kau masih mengingat senyumku bukan hari ini? Kau masih mengingat candaan kita bukan? Sekarang kau masih mengingatnya? Ketika kau bersamanya dan ku ingat masa – masa indahku bersamamu, aku takut. Aku tak ingin mengharapkan orang yang sudah memiliki. Kau telah memiliki yang lain. Aku masih menangis. Menahan tangisku keluar dihadapanmu. Dihadapan orang yang masih aku harapkan hingga saat ini. Karena aku bukanlah untuknya.
Aku memang mengerti. Perasaan ini makin membuncah ketika ku melihat kau bersamanya. Tapi, haruskah aku mengharapmu terus menerus sedangkan kau bersamanya? Haruskah?
Kau pasti menyadari aku masih mengharapkanmu. Tapi haruskah kita ulang cerita kita? Dari awal kita bertemu. Dari kau mulai menyukaiku. Dari kau menyatakan cintamu. Kan kuubah itu. Akan aku ubah itu semua untukmu. Hanya untuk hatimu. Hatimu Rakka.
Tapi itu takkan mungkin. Ini takdir yang terjadi. Takdir terbaik untuk kita berdua. Untukku. Untukmu. Dan untuknya. Aku hanya bagian dari masa lalumu. Masa dimana senyuman tulus ini tak berarti. Senyuman yang hangat untukmu dari hatiku dan perasaanku padamu.
Permintaanku padamu. Rakka masa laluku. Meski ku memohon dan meminta hatimu. Jangan pernah tinggalkan dirinya. Untuk diriku..

Love Destiny

Apakah menyukainya secara rahasia itu sebuah kesalahan? Apakah mengharapkannya secara rahasia juga sebuah kesalahan? Karena, tidak semua rasa itu harus diungkapkan. Sekalipun itu adalah cinta pertama. Cinta bodoh yang benar – benar berarti.

**

Aku adalah seorang remaja. Aku tak mengerti bagaimana kriteria seorang remaja. Apakah harus mempunyai orang terkasih atau bagaimana akupun tak mengerti. Yang ku mengerti hanyalah belajar dan belajar. Walaupun teman – temanku mulai jenuh dengan pekerjaan itu, aku masih menyukainya. Sangat menyukainya.
Walaupun aku menyukai belajar, jangan pernah sedikitpun tanyakan padaku mengenai cinta. Apa itu cinta? Aku tak tahu. Aku tak bisa mempelajarinya walaupun aku ingin. Lalu seperti apakah itu cinta? Bagaimana bentuk cinta? Apakah  cinta itu penting?

**

Citra datang lagi kepadaku. Ia bercerita tentang kekasihnya itu. Ia berkata bahwa kekasihnya saat ini adalah cinta pertamanya dan cinta terakhirnya. Dia bahkan selalu menangis ketika kekasihnya itu pergi atau hanya sekedar menjailinya dengan berita menyeramkan. Ia senang sekali setiap saat melihatnya. Ia bahkan akan melupakanku sebagai sahabatnya sendiri karena kekasihnya. Aku hanya terdiam seperti batu ketika mereka bersama. Dan sampai sekarang aku tak mengerti apa jalinan rasa yang mereka rasa. Memangnya cinta segila itu?

**

Suasana sekolah seperti biasanya. Aku menyukai belajar namun sekolah terlalu membosankan. Aku melihat situasi siang ini. Panas teriknya. Aku sudah tak sanggup. Ingin rasanya untuk segera sampai dirumah. Menikmati sejuknya kamar kesayanganku. Untuk belajar di tempat yang lebih aku sukai di bandingkan sekolah. Akupun akhirnya mempercepat jalanku. Dengan buku bertumpuk di lenganku. Aku berusaha menahannya dan tetap mempercepat jalanku karena aku sudah tidak kuat lagi.
Brug! Bukuku jatuh semua. Berantakan di jalanan sekolah. Akupun langsung memungutnya kembali.
“Maaf..” seseorang membantu membereskannya. Tepatnya, dia menubrukku. Memangnya dia tidak lihat – lihat kalau berjalan? Seenaknya saja menubrukku. Apalagi aku membawa buku lebih banyak dari biasanya. Aku mengutuk kesal sembari menumpuk buku itu lagi. Tragedi ini menambah keringat keluar dari badanku. Menyebalkan.
Akupun berdiri ketika buku itu selesai ditumpuk dan aku ingin pulang secepatnya. Benar – benar sudah tidak kuat lagi. Aku tak ingin apa – apa lagi terjadi hari ini. Sudah cukup!
“Apa kamu baik – baik saja?” sambil menepuk buku terakhir pada tumpukan. Aku memandangnya kesal. Aku sangat kesal padanya. Deg! Aku dan dia bertemu tatap. Jantungku berdebar – debar tak ingin berhenti. Seluruh tubuhku lemas secara tiba – tiba. Pipiku benar – benar terasa panas. Tanganku mendingin. Tak ada suara lain yang terdengar selain suaranya.
Tiba – tiba ia lalu pergi.

**

Pintu rumahpun aku buka. Akhirnya, aku bisa menikmati udara sejuk. Benar – benar sejuk. Aku langsung beranjak ke kamar terhebatku. Aku menghempaskan tubuhku ke atas kasur. Ahh, lelahnya. Dia. Siapa dia? Aku teringat akan lelaki yang menabrakku tadi. Benar – benar tidak tahu sopan santun. Apakah ia tidak ingin mengetahui jawabanku. Tiba – tiba pergi begitu saja. Memangnya dia siapa beraninya melakukan itu padaku. Tidak tahu malu. Ahhh, kenapa aku memikirkannya? Ya sudahlah. Aku tak terluka sedikitpun. Lalu apa masalahnya? Aku pun beranjak belajar untuk melupakan tragedi itu.
Aku buka sehelai demi sehelai kertas di bukuku. Aku terlihat membacanya. Padahal sebenarnya aku tak membacanya. Benar – benar tak membacanya. Aku masih memikirkannya. Lelaki itu. Lelaki yang mengagumkan itu. Bagaimana jika dia menyukaiku dengan sengaja menubrukku? Atau jangan – jangan dia tidak menyukaiku saja, tapi mencintaiku? Cinta? Memangnya apa yang aku tahu tentang cinta? Ahh, ini gila!

**

Sekolah semakin membosankan. Mungkin inilah titik jenuhku. Aku diperintah untuk mengantarkan buku pelajaran oleh guruku. Akupun bersama temanku menyanggupinya. Disepanjang jalan Citra bercerita lagi tentang kekasihnya itu. Kemarin mereka berdua bertengkar hebat. Citra bahkan menangis karenanya. Namun, sekarang mereka sudah berbaikan lagi. Seperti tak pernah ada kejadian buruk yang terjadi antara dia dan kekasihnya. Secepat itukah?
Citra sedang semangat sekali hari ini. Ia bercerita dengan ekspresif sekali. Tetapi aku tidak semangat seperti biasanya. Berjalan menyusuri kelas – kelas menuju ruang guru dengan gontai. Kulihat wajah – wajah siswa lainnya. Merekapun begitu gontainya. Apakah mereka juga sedang bertemu titik lelah hari ini atau aku yang baru menyadarinya?  Entahlah. Banyak alasan dibalik wajah – wajah tak bersemangat itu. Tiba – tiba kakiku berhenti berjalan. Deg! Dia lewat dihadapanku. Untuk kedua kalinya. Tubuhku melemas. Mulutku terkunci tak ingin bicara. Kakiku mulai gemetar. Kegundahan diriku melebihi pertemuan pertama. Aku sudah tak kuat lagi menahan tubuhku. Akhirnya ku sandarkan tubuhku ke dinding. Ahh, jantungku ini. Terlalu cepatkah kau berdegup? Aku tak sanggup menahannya. Benar – benar tak sanggup.
“Ta, apa kamu baik – baik saja? Apa ceritaku mengagetkanmu?” ia merasa bersalah. Tapi ia tak tahu harus bersalah untuk hal apa karena yang ia ceritakan adalah cerita bahagia. Bahwa ia bertemu dengan orang tua kekasihnya itu. Ia bingung harus melakukan apa.
“Aku akan menyimpan ini. Tunggu disini!” lalu berlari. Aku memandangnya meninggalkanku. Lalu bayangan lelaki itu muncul lagi. Mengapa aku menjadi seperti ini? Aku bahagia sekali menemuinya. Tapi aku takut padanya. Padahal harusnya dialah yang takut padaku karena tragedi itu. Tapi mengapa? Mengapa jadi aku yang seperti ini?

**

Hari demi hari berlalu dengan cepat. Detik demi detik mengantarkanku menuju hari ini. Tepat tiga bulan sejak aku bertemu dengannya. Di dekat gerbang sekolah. Tragedi itu tak dapat terlupakan. Bagaikan film. Selalu terputar di otakku. Dan parahnya aku tak pernah bosan untuk memutarnya lagi, lagi dan lagi.
Selama tiga bulan itu pula aku selalu berdegup ketika memandangnya. Lalu munculah film buatanku sendiri. Khayalan yang masih jauh dari kenyataan. Sampai hari ini, aku masih belum bisa menceritakan ini kepada siapapun. Termasuk ke diariku sendiri. Aku berhenti menulis diari karena aku takut. Aku takut karena alasan yang sama sekali tak beralasan.
Sesungguhnya, memendam rasa seperti ini menyakitkan. Terutama memendam rasa berbeda ini sendirian. Tak ada orang yang menasihatiku atau memberiku masukan untuk apa yang harus aku lakukan. Benar – benar menyedihkan.
 Ku coba memberanikan diriku untuk menceritakan kepada Citra. Sedikit demi sedikit film – film yang selama ini kusimpan hanya untukku sendiri kuputarkan untuk Citra. Step by step. Aku rasakan kesesakan hatiku semakin menghilang. Untungnya Citra tak bosan mendengarkan curhatku.
“Itu mungkin cinta pertamamu?”
“Cinta?”
“Ya, kamu jatuh cinta!” Dia begitu antusias. Dia malah jengkel kepadaku karena tidak menceritakannya sejak dahulu.
“Kau. Memang benar – benar ya! Aku ini sahabatmu bukan sebenarnya? Apa kau tidak pernah menganggapmu sahabat?” hendak berlari dari hadapanku. Aku menahannya. Benar – benar kencang aku menahannya. Ia memang lebih kuat dibandingkan aku. Sejak dahulu dia adalah seorang karateka yang aktif. Bahkan sekarang ia adalah atlit nasional. Benar – benar penuh perjuangan menahannya tetap disisiku.
“Maaf..” kata itupun akhirnya keluar dari mulutku. Aku tak ingin ia tahu karena aku masih malu untuk menceritakan sebenarnya. Aku takut hanyalah seorang pengharap. Aku tidak ingin mengharapkan seseorang seperti ini. Seperti yang sedang aku lakukan.
“Apa mengharapkan seseorang itu salah?” Citra menyambutku ketika hendak makan siang. Aku kaget dengan ucapannya kepadaku.
“Maksudmu apa? Apa ada yang salah dengan perilakuku?”             “Ya, tentu saja! Kau sedang mengharapkan seseorang, tapi kau tidak mau mengakui bahwa engkau sedang mengharapkannya.” Ia tersenyum. Aku hanya tertunduk malu mendengar ucapannya itu. Sedikit demi sedikit aku selami perkataannya. Berharap. Apa benar aku sedang mengharapkannya? Mengapa aku mengharapkannya? Dia bukanlah orang yang pantas untuk aku harapkan.
Aku bawa makananku ke meja makan sekolah. Duduk bersebrangan dengan Citra agar mengobrol kami menjadi enak. Hari ini aku tidak nafsu makan. Aku hanya menatap makanan itu. Mengaduk – aduknya sampai tidak layak untuk dimakan lagi.
“Memangnya mengharapkan seseorang itu memalukan?” Citra memandangku sambil memakan makanannya. Memalukan? Apanya yang memalukan? Tak ada yang memalukan.
“Memangnya dia pantas untuk aku harapkan?” aku balas tatapan Citra.
“Menurutmu?”
“Menurutku? Entahlah! Ia terlalu sulit untuk aku harapkan. Aku tak mau membuat harapan kosong untuk diriku sendiri.”
“Takdir tak ada yang tahu.”

**

Hari – hari mulai kujalani semakin tak biasa. Aku masih tak percaya akan kenyataan bahwa aku mengharapkannya. Bukan karena apapun, tapi aku masih malu untuk mempunyai rasa ini. Terlalu malu hingga aku tak sanggup menatapnya kali ini. Ia datang ke hadapanku. Benar – benar ke hadapanku seperti dahulu. Berharap ia menanyakan kabarku karena ia belum mendapatkan jawaban itu dariku. Dia berjalan menghampiriku. Jantungku berdebar – debar lagi. Apakah dia akan menyatakan cintanya kali ini padaku? Setiap alunan langkahnya seperti terekam langsung agar aku bisa putar lagi suatu hari nanti. Tuk tuk tuk. Suara sepatunya pun sangat mengagumkan. Kau. Menyentuh hatiku selalu. Ia datang kehadapanku. Mulai dengan bahasa tubuh ingin memulai percakapan.
“Bisa kau panggilkan Laena?” dengan penuh perintah ia menyuruhku begitu saja. Dunia seolah mempermainkanku. Deg! Hantaman demi hantaman kata itu melukai hatiku.  Laena? Ada apa dengan Laena? Mengapa ia tidak menanyakan kabarku sekarang? Apakah ia telah benar – benar melupakanku?
“Hei, bisakah kau?” memandangku dengan bingung. Akupun lepas dari lamunanku dan mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Masuk kedalam ruangan kelas dengan perasaan terbenam.
“Laena, ada seseorang menunggumu diluar!” ucapku sambil kembali ke tempat dudukku. Membuka bukuku agar aku bisa melupakan tragedi kali ini. Aku tak ingin menyatukannya sebagai film hidupku tentangnya. Aku hanya ingin dia dan aku saja yang berperan di dalam film ini.
Laena benar – benar bahagia. Matanya berbinar – binar. Seakan tak ada yang lebih bahagia dibandingkan dirinya hari ini. Senyuman dipipinya tak bisa lepas. Lelaki itu memang telah membuatnya lebih indah. Teman – temannya pun begitu. Sangat bahagia sampai aku bisa merasakan lebih dalam rasa sakitku. Jantungku semakin berdebar. Aku takut. Aku takut jantung ini akan merenggut segalanya hanya akibat dari berita yang tak ingin aku dengar sama sekali.
“Dia, benar – benar romantis. Bunga ini ia siapkan untukku. Ia benar – benar menyayangiku bukan?” Laena masih dengan wajah tersipu malunya. Teman – temannya menggodanya. Aku hanya merintih kesakitan menahan debaran jantung ini. Sakit. Lama – lama semakin kencang. Dan semakin kencang. Serasa jantungku akan keluar dari persembunyiannya selama ini. Semakin aku dengar mereka bahagia, jiwa ini semakin sakit.

**

Aku masih kaget dengan segala kejadian hari ini. Aku tak bisa mengatakan apa – apa. Otakku buyar. Bibirku menjadi membisu. Tak ingin aku lihat apapun disekelilingku. Kecuali diari itu. Aku melupakan diari itu. Aku mencoba menulis tanggal diatasnya. Aku masih bertanya dalam hatiku. Apa aku harus memulai menulis diari lagi untuk menenangkan hatiku setelah semua kejadian hari ini menusuk hatiku dengan cepatnya. Berpikir aku harus menulisnya mulai darimana. Kutulis kata pertama. Sesak.
Lalu kututup lagi diari itu. Aku tak ingin merekamnya dalam memori diari. Walaupun itu dapat dijadikan tempat bernostalgia suatu hari nanti, tapi aku tak ingin. Aku tak ingin menceritakannya di dalam diari ini. Aku masih merasa ini memalukan. Aku tak ingin menulis kisah cinta pertama yang seperti ini. Aku tak mau. Aku hilang kendali.
Setiap melihat Laena kali ini –sejak saat itu–, aku merasa sakit. Sakit tanpa sebab. Sakit yang akan menggerogoti hatiku hingga aku mampu melupakan lelaki itu. Lelaki itu. Aku bahkan tidak tahu namanya siapa namun aku dengan begitunya bisa jatuh hati padanya. Laena dan lelaki itu. Membuatku ingin mengakhiri kisahku ini. Benar apa kataku. Aku tak mungkin mendapatkan dia. Aku menyadarinya namun aku tak mau mengakuinya. Aku benar – benar membuat harapan kosong untuk diriku sendiri.

**

Musim panas pun berakhir. Musim hujan pun segera menampakan tandanya. Seperti musim yang berganti, hatiku pun berubah. Mulai dari mengharapkannya hingga menyakiti hatiku sendiri. Benar – benar pergantian musim yang signifikan.
Aku masih menatap Laena dengan hati menangis. Musim berlalu, namun rasa sakit ini belum juga berubah. Karena yang berubah hanya harapanku, bukan rasa sakit ini.
Namun, hari ini Laena benar – benar sedang gundah. Ia kalut akan segalanya. Entah apa yang terjadi. Sebenarnya aku tak ingin tahu, karena takut menyakitiku jika mengetahuinya seperti waktu itu.
“Sabar ya! Mungkin ia hanya emosi sesaat. Tak lebih!” temannya menepuk bahunya. Laena mengangguk dengan mata berkaca – kaca. Dia sepertinya benar – benar mencintai lelaki itu.

**

Aku pulang sekolah seperti biasanya. Berjalan menuju gerbang sekolah sendirian. Citra tentu saja sibuk dengan kekasihnya itu. Dengan payung berwarna – warni sepanjang jalan. Aku menyukai musim hujan. Aku menyukai hujan.
“Qaila..”
“Apa?”
“Metha menyukai Defan.”
“Apa katamu? Dia orang ketiga di dalam hubunganmu dengan Defan?”
“Bukan! Tidak ada orang ketiga dalam hubunganku dengan Defan. Metha menyukai Defan bahkan sebelum aku mengenal Defan. Aku benar – benar tak tahu. Kalaupun aku mengetahuinya sejak dahulu, aku sebisa mungkin tak mengambil pandangannya untuk Defan. Aku benar – benar merasa bersalah padanya jika seperti ini.”
“Lalu? Kita harus seperti apa? Kau sekarang sudah benar – benar menyayangi Defan. Kau hanya melakukan apa yang sudah menjadi takdirmu. Tak usah kamu merasa bersalah seperti ini.”
“Bagaimana jika aku beritahu Defan jika Metha menyukainya?”
“Apa kau gila?”
“Aku hanya ingin tahu saja bagaimana perasaannya pada Metha.” Qaila hanya mengangguk terserah pada Laena.
Perasaanku tersentak. Aku hentikan lajuku. Dengan payung yang tak kuat lagi untuk kugenggam. Sedikit demi sedikit. Air hujan membasahi rambutku. Lalu sekujur tubuhku. Jantung ini tak ingin diam. Sakit. Semakin sakit. Tatapanku kosong. Dug dug dug. Hentaman jantung ini. Bulir – bulir kristal itupun akhirnya menampakan wujudnya. Akupun terjatuh disudut jalanan itu. Bagaimana mereka tahu? Bagaimana?
Apa mereka sengaja ucapkan itu didepanku karena mereka menyadari keberadaanku? Apa kau benar – benar takut kehilangannya? Bukan seperti ini caranya, Laena. Bukan seperti ini! Tak seharusnya kau lakukan ini. Mengapa kau lakukan ini? Apa kau mulai membenciku? Ataukah kau sedang membenciku?
Aku benar – benar takut. Apa yang akan lelaki itu katakan? Sudah cukup aku melihat mereka berdua. Begitu bahagia. Menyakiti diriku sendiri. Menjalani kisah cinta yang tak pasti. Begitu sakit bagiku. Itupun sudah cukup. Sangat cukup bagiku sebagai pengagum rahasia. Sangat cukup bagiku sebagai seseorang yang membuat harapan kosong untuk dirinya sendiri. Haruskah kau tambah perih dihati ini, Laena?

**

Defan. Ternyata lelaki itu bernama Defan. Kutatap matanya dibalik kerumunan orang sepulang sekolah. Bersama buku – bukuku yang menumpuk. Defan masih tersenyum dengan bahagia. Walau bukan untukku.
Rasa dihatiku masih ada. Dia selalu ada. Walaupun memang seharusnya aku melepasnya. Namun, biarlah waktu yang menjawab. Jika dia adalah cinta pertamaku, terima kasih. Terima kasih kau telah membuatku belajar bagaimana cinta itu tumbuh disudut hatiku. Defan. Jika dia adalah rasa sakit hati pertamaku, terima kasih atas itu semua. Laena. Namun, semua butuh waktu. Rasa ini akan hilang tak secepat rasa itu tumbuh. Jika aku mengagumi Defan, maaf. Hatiku masih tak mau diam untuk itu. Proses ini masih panjang. Walaupun kau miliknya. Walaupun cintamu miliknya. Aku akan selalu mengaguminya walau itu gila. Bagaimana arti rasa ini selalu berarti bagiku.

Maximum Reaction

Entah kau tahu atau tidak, kalian mulai menjadi bagianku. Bagian yang tak terlepas dari persahabatan kita ini. Semuanya seperti biasanya. Tak ada yang berbeda dari persahabatan kita dengan yang lainnya. Kita pada umumnya. Bermain selepas sekolah. Berbincang di setiap ada celah kita untuk berbicara. Berbicara tentang apapun. Apapun!. Mulai dari hal – hal kecil hingga hal – hal besar sekalipun kita bicarakan. Hal simple, hal rumit, itu menyenangkan. Bercanda tertawa bersama. Menangis tersedu dalam duka. Kita memang bersahabat. Bagiku kita adalah sebuah persahabatan. Bagiku.
Semuanya butuh proses. Begitupun kita. Namun setelah kudalami, bukan kita. Tapi, AKU. Aku yang butuh proses untuk masuk kedalam kalian. Proses yang entah butuh berapa lama lagi. Mungkinkah hingga ku jenuh? Ku tak tahu. Tak lagi tahu.
Namun sebenarnya kita melupakan satu proses. Proses balik. Proses kesetimbangan tak bisa kita raih. Ku selalu bereaksi namun kalian tak mampu bereaksi untukku. Hanya aku. Hanya diriku. Tenggelam dalam kelelahan.
Kini kusadari. Inilah yang terbaik. Aku mundur untuk kalian. Aku lelah dengan kalian. Jika memang ini adalah peristiwa bertepuk sebelah tangan, biarkan ini berlalu. Bila ini akan menjadi luka, sembuhlah secepatnya. Agar kalian tak terganggu. Aku terpisahkan.

Melewatkanmu

Hari – hari indahku segera dimulai. Seperti pelangi setelah hujan. Kau indahkan hari – hari kelamku. Kau warnai jiwaku dengan berbagai warna yang kau berikan. Kurasakan hal indahku memang datang. Kenangan – kenangan indah yang kita buat takkan ku lupakan selamanya.
Aku tak sanggup menatapnya. Benar – benar tak sanggup. Kali ini aku ingin. Sejenak saja ku ingin menatapnya lebih lama dari sebelumnya. Ku lihat matanya. Alur wajahnya. Senyumannya. Ahh, indahnya. Kau hanya tersenyum ketika aku termangu dihadapanmu.
“Hey!” ucapnya sambil melambaikan tangannya di depan mataku. Akupun terbangun dari lamunanku dihadapannya. Membuatku tersipu malu. Walaupun dihadapannya, aku masih memikirkannya. Ahh, ini gila. Aku temukan sisi lain hidupku bersamanya. Ku hilangkan segala keegoisan hidupku hanya untuknya.
Disini. Ditempat inilah kutatapmu lebih lama. Dibawah pohon rindang kita selalu bercanda. Selalu tertawa dengan apapun yang ingin kita tertawakan. Berbagi suka. Berbagi duka. Bersamamu. Selalu itu yang ku mau.
**
Disini. Ditempat inilah ku kehilanganmu lebih lama. Dibawah pohon rindang yang penuh kenangan indah. Kau akhiri kenangan ini dengan ucapan tak masuk akalmu bagiku. Kau akhiri janji kita berdua. Tak ada mata indah itu dimatamu kali ini. Tak ada senyuman indah itu diwajahmu kali ini. Takkan ada lagi dirimu.
“Maafkan aku. “ Kau pergi. Menjauh dari hidupku. Tak ada kau di setiap hariku. Di hari – hari ku selanjutnya. Tak pernah terpikirkan ku melewatkanmu di hari – hariku.
**
Hari indah itu telah berakhir. Kau memang pelangi. Datang setelah hujan dan kemudian hilang. Kau hanya fatamorgana. Kau kembalikan senyumanku setelah semua badai itu. Namun, kau jugalah yang kembalikan badai itu. Lebih dari sebelumnya.
Di bawah pohon rindang itu, kau masih selalu datang. Walau kini kau sendiri tetap dengan senyumanmu. Namun, mengapa sulit bagiku untuk menyapamu sekali saja. Padahal aku pun selalu datang ke bawah pohon rindang itu. Mengulang kenangan indahku bersamamu.
Ku melihatmu dibalik pohon rindang lain. Ketika kau datang, hatiku masih membuncah. Rasaku masih sama. Rambutmu yang terhembus angin, takkan pernah  kulupakan. Disini. Dibalik hati yang membisu ini. Aku merindukanmu.
**
Mencoba melupakanmu . Takkan mudah bagiku. Selalu terhenti dibatas senyumanmu. Aku mencoba. Namun, aku masih tak bisa melupakan kenangan indah itu. Hari ini ku datang lagi untuk melihatmu di bawah pohon rindang kita. Aku tunggu dengan perasaan waspada. Takut kau melihatku.
Kau sepertinya terlambat datang hari ini. Mungkin sepertinya kau tidak datang hari ini. Akupun maju ke arah pohon rindang itu. Lalu aku berjalan di tepian danau itu. Melihat pancaran cahaya pagi itu.
“Hey!” seseorang mengagetkanku. Akupun berbalik. Dirimu. Dirimu datang. Kau datang menenmuiku. Kau masih mencintaiku kah? Hatiku membuncah. Namun kau membuatku termangu.
“Wanita ini penggantimu. Aku takkan kembali padamu meskipun kau menungguku di balik pohon lain itu.” Matanya tak memandangku. Aku ingin berlari. Tetapi, kakiku gemetar dan tak bisa bergerak. Bibirku membisu. Wanita itu. Mataku perih melihatnya. Tanpa sadar, kakiku melangkah. Lebih cepat. Aku berlari. Pergi ke bawah pohon rindang dimana aku selalu melihatnya. Air mataku menetes. Sedikit demi sedikit. Dirimu. Sengajakah kau lakukan ini? Mengapa kau lakukan ini? Padaku? Pada wanita yang mencintaimu dengan tulus?. Ku coba melihatmu lagi dibalik pohon rindang ini. Melihatmu bersamanya. Melihatmu bahagia. Ku remas hati ini. Kau bawa ia bersamamu ke bawah pohon rindang kita.
**
Harusnya ku tlah melewatkanmu. Menghapuskanmu dari dalam benakku. Namun ternyata sulit bagiku. Merelakanmu pergi dari hatiku. Selalu ingin dekat tubuhmu. Namun aku tak bisa. Karena kau telah bahagia.
**
Hari ini aku datang lagi. Ke bawah pohon rindang itu. Untuk melihatmu bersamanya. Untuk melihatmu bahagia. Untuk hancurkan hatiku lebih dari yang kau mau.