Love Destiny

Apakah menyukainya secara rahasia itu sebuah kesalahan? Apakah mengharapkannya secara rahasia juga sebuah kesalahan? Karena, tidak semua rasa itu harus diungkapkan. Sekalipun itu adalah cinta pertama. Cinta bodoh yang benar – benar berarti.

**

Aku adalah seorang remaja. Aku tak mengerti bagaimana kriteria seorang remaja. Apakah harus mempunyai orang terkasih atau bagaimana akupun tak mengerti. Yang ku mengerti hanyalah belajar dan belajar. Walaupun teman – temanku mulai jenuh dengan pekerjaan itu, aku masih menyukainya. Sangat menyukainya.
Walaupun aku menyukai belajar, jangan pernah sedikitpun tanyakan padaku mengenai cinta. Apa itu cinta? Aku tak tahu. Aku tak bisa mempelajarinya walaupun aku ingin. Lalu seperti apakah itu cinta? Bagaimana bentuk cinta? Apakah  cinta itu penting?

**

Citra datang lagi kepadaku. Ia bercerita tentang kekasihnya itu. Ia berkata bahwa kekasihnya saat ini adalah cinta pertamanya dan cinta terakhirnya. Dia bahkan selalu menangis ketika kekasihnya itu pergi atau hanya sekedar menjailinya dengan berita menyeramkan. Ia senang sekali setiap saat melihatnya. Ia bahkan akan melupakanku sebagai sahabatnya sendiri karena kekasihnya. Aku hanya terdiam seperti batu ketika mereka bersama. Dan sampai sekarang aku tak mengerti apa jalinan rasa yang mereka rasa. Memangnya cinta segila itu?

**

Suasana sekolah seperti biasanya. Aku menyukai belajar namun sekolah terlalu membosankan. Aku melihat situasi siang ini. Panas teriknya. Aku sudah tak sanggup. Ingin rasanya untuk segera sampai dirumah. Menikmati sejuknya kamar kesayanganku. Untuk belajar di tempat yang lebih aku sukai di bandingkan sekolah. Akupun akhirnya mempercepat jalanku. Dengan buku bertumpuk di lenganku. Aku berusaha menahannya dan tetap mempercepat jalanku karena aku sudah tidak kuat lagi.
Brug! Bukuku jatuh semua. Berantakan di jalanan sekolah. Akupun langsung memungutnya kembali.
“Maaf..” seseorang membantu membereskannya. Tepatnya, dia menubrukku. Memangnya dia tidak lihat – lihat kalau berjalan? Seenaknya saja menubrukku. Apalagi aku membawa buku lebih banyak dari biasanya. Aku mengutuk kesal sembari menumpuk buku itu lagi. Tragedi ini menambah keringat keluar dari badanku. Menyebalkan.
Akupun berdiri ketika buku itu selesai ditumpuk dan aku ingin pulang secepatnya. Benar – benar sudah tidak kuat lagi. Aku tak ingin apa – apa lagi terjadi hari ini. Sudah cukup!
“Apa kamu baik – baik saja?” sambil menepuk buku terakhir pada tumpukan. Aku memandangnya kesal. Aku sangat kesal padanya. Deg! Aku dan dia bertemu tatap. Jantungku berdebar – debar tak ingin berhenti. Seluruh tubuhku lemas secara tiba – tiba. Pipiku benar – benar terasa panas. Tanganku mendingin. Tak ada suara lain yang terdengar selain suaranya.
Tiba – tiba ia lalu pergi.

**

Pintu rumahpun aku buka. Akhirnya, aku bisa menikmati udara sejuk. Benar – benar sejuk. Aku langsung beranjak ke kamar terhebatku. Aku menghempaskan tubuhku ke atas kasur. Ahh, lelahnya. Dia. Siapa dia? Aku teringat akan lelaki yang menabrakku tadi. Benar – benar tidak tahu sopan santun. Apakah ia tidak ingin mengetahui jawabanku. Tiba – tiba pergi begitu saja. Memangnya dia siapa beraninya melakukan itu padaku. Tidak tahu malu. Ahhh, kenapa aku memikirkannya? Ya sudahlah. Aku tak terluka sedikitpun. Lalu apa masalahnya? Aku pun beranjak belajar untuk melupakan tragedi itu.
Aku buka sehelai demi sehelai kertas di bukuku. Aku terlihat membacanya. Padahal sebenarnya aku tak membacanya. Benar – benar tak membacanya. Aku masih memikirkannya. Lelaki itu. Lelaki yang mengagumkan itu. Bagaimana jika dia menyukaiku dengan sengaja menubrukku? Atau jangan – jangan dia tidak menyukaiku saja, tapi mencintaiku? Cinta? Memangnya apa yang aku tahu tentang cinta? Ahh, ini gila!

**

Sekolah semakin membosankan. Mungkin inilah titik jenuhku. Aku diperintah untuk mengantarkan buku pelajaran oleh guruku. Akupun bersama temanku menyanggupinya. Disepanjang jalan Citra bercerita lagi tentang kekasihnya itu. Kemarin mereka berdua bertengkar hebat. Citra bahkan menangis karenanya. Namun, sekarang mereka sudah berbaikan lagi. Seperti tak pernah ada kejadian buruk yang terjadi antara dia dan kekasihnya. Secepat itukah?
Citra sedang semangat sekali hari ini. Ia bercerita dengan ekspresif sekali. Tetapi aku tidak semangat seperti biasanya. Berjalan menyusuri kelas – kelas menuju ruang guru dengan gontai. Kulihat wajah – wajah siswa lainnya. Merekapun begitu gontainya. Apakah mereka juga sedang bertemu titik lelah hari ini atau aku yang baru menyadarinya?  Entahlah. Banyak alasan dibalik wajah – wajah tak bersemangat itu. Tiba – tiba kakiku berhenti berjalan. Deg! Dia lewat dihadapanku. Untuk kedua kalinya. Tubuhku melemas. Mulutku terkunci tak ingin bicara. Kakiku mulai gemetar. Kegundahan diriku melebihi pertemuan pertama. Aku sudah tak kuat lagi menahan tubuhku. Akhirnya ku sandarkan tubuhku ke dinding. Ahh, jantungku ini. Terlalu cepatkah kau berdegup? Aku tak sanggup menahannya. Benar – benar tak sanggup.
“Ta, apa kamu baik – baik saja? Apa ceritaku mengagetkanmu?” ia merasa bersalah. Tapi ia tak tahu harus bersalah untuk hal apa karena yang ia ceritakan adalah cerita bahagia. Bahwa ia bertemu dengan orang tua kekasihnya itu. Ia bingung harus melakukan apa.
“Aku akan menyimpan ini. Tunggu disini!” lalu berlari. Aku memandangnya meninggalkanku. Lalu bayangan lelaki itu muncul lagi. Mengapa aku menjadi seperti ini? Aku bahagia sekali menemuinya. Tapi aku takut padanya. Padahal harusnya dialah yang takut padaku karena tragedi itu. Tapi mengapa? Mengapa jadi aku yang seperti ini?

**

Hari demi hari berlalu dengan cepat. Detik demi detik mengantarkanku menuju hari ini. Tepat tiga bulan sejak aku bertemu dengannya. Di dekat gerbang sekolah. Tragedi itu tak dapat terlupakan. Bagaikan film. Selalu terputar di otakku. Dan parahnya aku tak pernah bosan untuk memutarnya lagi, lagi dan lagi.
Selama tiga bulan itu pula aku selalu berdegup ketika memandangnya. Lalu munculah film buatanku sendiri. Khayalan yang masih jauh dari kenyataan. Sampai hari ini, aku masih belum bisa menceritakan ini kepada siapapun. Termasuk ke diariku sendiri. Aku berhenti menulis diari karena aku takut. Aku takut karena alasan yang sama sekali tak beralasan.
Sesungguhnya, memendam rasa seperti ini menyakitkan. Terutama memendam rasa berbeda ini sendirian. Tak ada orang yang menasihatiku atau memberiku masukan untuk apa yang harus aku lakukan. Benar – benar menyedihkan.
 Ku coba memberanikan diriku untuk menceritakan kepada Citra. Sedikit demi sedikit film – film yang selama ini kusimpan hanya untukku sendiri kuputarkan untuk Citra. Step by step. Aku rasakan kesesakan hatiku semakin menghilang. Untungnya Citra tak bosan mendengarkan curhatku.
“Itu mungkin cinta pertamamu?”
“Cinta?”
“Ya, kamu jatuh cinta!” Dia begitu antusias. Dia malah jengkel kepadaku karena tidak menceritakannya sejak dahulu.
“Kau. Memang benar – benar ya! Aku ini sahabatmu bukan sebenarnya? Apa kau tidak pernah menganggapmu sahabat?” hendak berlari dari hadapanku. Aku menahannya. Benar – benar kencang aku menahannya. Ia memang lebih kuat dibandingkan aku. Sejak dahulu dia adalah seorang karateka yang aktif. Bahkan sekarang ia adalah atlit nasional. Benar – benar penuh perjuangan menahannya tetap disisiku.
“Maaf..” kata itupun akhirnya keluar dari mulutku. Aku tak ingin ia tahu karena aku masih malu untuk menceritakan sebenarnya. Aku takut hanyalah seorang pengharap. Aku tidak ingin mengharapkan seseorang seperti ini. Seperti yang sedang aku lakukan.
“Apa mengharapkan seseorang itu salah?” Citra menyambutku ketika hendak makan siang. Aku kaget dengan ucapannya kepadaku.
“Maksudmu apa? Apa ada yang salah dengan perilakuku?”             “Ya, tentu saja! Kau sedang mengharapkan seseorang, tapi kau tidak mau mengakui bahwa engkau sedang mengharapkannya.” Ia tersenyum. Aku hanya tertunduk malu mendengar ucapannya itu. Sedikit demi sedikit aku selami perkataannya. Berharap. Apa benar aku sedang mengharapkannya? Mengapa aku mengharapkannya? Dia bukanlah orang yang pantas untuk aku harapkan.
Aku bawa makananku ke meja makan sekolah. Duduk bersebrangan dengan Citra agar mengobrol kami menjadi enak. Hari ini aku tidak nafsu makan. Aku hanya menatap makanan itu. Mengaduk – aduknya sampai tidak layak untuk dimakan lagi.
“Memangnya mengharapkan seseorang itu memalukan?” Citra memandangku sambil memakan makanannya. Memalukan? Apanya yang memalukan? Tak ada yang memalukan.
“Memangnya dia pantas untuk aku harapkan?” aku balas tatapan Citra.
“Menurutmu?”
“Menurutku? Entahlah! Ia terlalu sulit untuk aku harapkan. Aku tak mau membuat harapan kosong untuk diriku sendiri.”
“Takdir tak ada yang tahu.”

**

Hari – hari mulai kujalani semakin tak biasa. Aku masih tak percaya akan kenyataan bahwa aku mengharapkannya. Bukan karena apapun, tapi aku masih malu untuk mempunyai rasa ini. Terlalu malu hingga aku tak sanggup menatapnya kali ini. Ia datang ke hadapanku. Benar – benar ke hadapanku seperti dahulu. Berharap ia menanyakan kabarku karena ia belum mendapatkan jawaban itu dariku. Dia berjalan menghampiriku. Jantungku berdebar – debar lagi. Apakah dia akan menyatakan cintanya kali ini padaku? Setiap alunan langkahnya seperti terekam langsung agar aku bisa putar lagi suatu hari nanti. Tuk tuk tuk. Suara sepatunya pun sangat mengagumkan. Kau. Menyentuh hatiku selalu. Ia datang kehadapanku. Mulai dengan bahasa tubuh ingin memulai percakapan.
“Bisa kau panggilkan Laena?” dengan penuh perintah ia menyuruhku begitu saja. Dunia seolah mempermainkanku. Deg! Hantaman demi hantaman kata itu melukai hatiku.  Laena? Ada apa dengan Laena? Mengapa ia tidak menanyakan kabarku sekarang? Apakah ia telah benar – benar melupakanku?
“Hei, bisakah kau?” memandangku dengan bingung. Akupun lepas dari lamunanku dan mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Masuk kedalam ruangan kelas dengan perasaan terbenam.
“Laena, ada seseorang menunggumu diluar!” ucapku sambil kembali ke tempat dudukku. Membuka bukuku agar aku bisa melupakan tragedi kali ini. Aku tak ingin menyatukannya sebagai film hidupku tentangnya. Aku hanya ingin dia dan aku saja yang berperan di dalam film ini.
Laena benar – benar bahagia. Matanya berbinar – binar. Seakan tak ada yang lebih bahagia dibandingkan dirinya hari ini. Senyuman dipipinya tak bisa lepas. Lelaki itu memang telah membuatnya lebih indah. Teman – temannya pun begitu. Sangat bahagia sampai aku bisa merasakan lebih dalam rasa sakitku. Jantungku semakin berdebar. Aku takut. Aku takut jantung ini akan merenggut segalanya hanya akibat dari berita yang tak ingin aku dengar sama sekali.
“Dia, benar – benar romantis. Bunga ini ia siapkan untukku. Ia benar – benar menyayangiku bukan?” Laena masih dengan wajah tersipu malunya. Teman – temannya menggodanya. Aku hanya merintih kesakitan menahan debaran jantung ini. Sakit. Lama – lama semakin kencang. Dan semakin kencang. Serasa jantungku akan keluar dari persembunyiannya selama ini. Semakin aku dengar mereka bahagia, jiwa ini semakin sakit.

**

Aku masih kaget dengan segala kejadian hari ini. Aku tak bisa mengatakan apa – apa. Otakku buyar. Bibirku menjadi membisu. Tak ingin aku lihat apapun disekelilingku. Kecuali diari itu. Aku melupakan diari itu. Aku mencoba menulis tanggal diatasnya. Aku masih bertanya dalam hatiku. Apa aku harus memulai menulis diari lagi untuk menenangkan hatiku setelah semua kejadian hari ini menusuk hatiku dengan cepatnya. Berpikir aku harus menulisnya mulai darimana. Kutulis kata pertama. Sesak.
Lalu kututup lagi diari itu. Aku tak ingin merekamnya dalam memori diari. Walaupun itu dapat dijadikan tempat bernostalgia suatu hari nanti, tapi aku tak ingin. Aku tak ingin menceritakannya di dalam diari ini. Aku masih merasa ini memalukan. Aku tak ingin menulis kisah cinta pertama yang seperti ini. Aku tak mau. Aku hilang kendali.
Setiap melihat Laena kali ini –sejak saat itu–, aku merasa sakit. Sakit tanpa sebab. Sakit yang akan menggerogoti hatiku hingga aku mampu melupakan lelaki itu. Lelaki itu. Aku bahkan tidak tahu namanya siapa namun aku dengan begitunya bisa jatuh hati padanya. Laena dan lelaki itu. Membuatku ingin mengakhiri kisahku ini. Benar apa kataku. Aku tak mungkin mendapatkan dia. Aku menyadarinya namun aku tak mau mengakuinya. Aku benar – benar membuat harapan kosong untuk diriku sendiri.

**

Musim panas pun berakhir. Musim hujan pun segera menampakan tandanya. Seperti musim yang berganti, hatiku pun berubah. Mulai dari mengharapkannya hingga menyakiti hatiku sendiri. Benar – benar pergantian musim yang signifikan.
Aku masih menatap Laena dengan hati menangis. Musim berlalu, namun rasa sakit ini belum juga berubah. Karena yang berubah hanya harapanku, bukan rasa sakit ini.
Namun, hari ini Laena benar – benar sedang gundah. Ia kalut akan segalanya. Entah apa yang terjadi. Sebenarnya aku tak ingin tahu, karena takut menyakitiku jika mengetahuinya seperti waktu itu.
“Sabar ya! Mungkin ia hanya emosi sesaat. Tak lebih!” temannya menepuk bahunya. Laena mengangguk dengan mata berkaca – kaca. Dia sepertinya benar – benar mencintai lelaki itu.

**

Aku pulang sekolah seperti biasanya. Berjalan menuju gerbang sekolah sendirian. Citra tentu saja sibuk dengan kekasihnya itu. Dengan payung berwarna – warni sepanjang jalan. Aku menyukai musim hujan. Aku menyukai hujan.
“Qaila..”
“Apa?”
“Metha menyukai Defan.”
“Apa katamu? Dia orang ketiga di dalam hubunganmu dengan Defan?”
“Bukan! Tidak ada orang ketiga dalam hubunganku dengan Defan. Metha menyukai Defan bahkan sebelum aku mengenal Defan. Aku benar – benar tak tahu. Kalaupun aku mengetahuinya sejak dahulu, aku sebisa mungkin tak mengambil pandangannya untuk Defan. Aku benar – benar merasa bersalah padanya jika seperti ini.”
“Lalu? Kita harus seperti apa? Kau sekarang sudah benar – benar menyayangi Defan. Kau hanya melakukan apa yang sudah menjadi takdirmu. Tak usah kamu merasa bersalah seperti ini.”
“Bagaimana jika aku beritahu Defan jika Metha menyukainya?”
“Apa kau gila?”
“Aku hanya ingin tahu saja bagaimana perasaannya pada Metha.” Qaila hanya mengangguk terserah pada Laena.
Perasaanku tersentak. Aku hentikan lajuku. Dengan payung yang tak kuat lagi untuk kugenggam. Sedikit demi sedikit. Air hujan membasahi rambutku. Lalu sekujur tubuhku. Jantung ini tak ingin diam. Sakit. Semakin sakit. Tatapanku kosong. Dug dug dug. Hentaman jantung ini. Bulir – bulir kristal itupun akhirnya menampakan wujudnya. Akupun terjatuh disudut jalanan itu. Bagaimana mereka tahu? Bagaimana?
Apa mereka sengaja ucapkan itu didepanku karena mereka menyadari keberadaanku? Apa kau benar – benar takut kehilangannya? Bukan seperti ini caranya, Laena. Bukan seperti ini! Tak seharusnya kau lakukan ini. Mengapa kau lakukan ini? Apa kau mulai membenciku? Ataukah kau sedang membenciku?
Aku benar – benar takut. Apa yang akan lelaki itu katakan? Sudah cukup aku melihat mereka berdua. Begitu bahagia. Menyakiti diriku sendiri. Menjalani kisah cinta yang tak pasti. Begitu sakit bagiku. Itupun sudah cukup. Sangat cukup bagiku sebagai pengagum rahasia. Sangat cukup bagiku sebagai seseorang yang membuat harapan kosong untuk dirinya sendiri. Haruskah kau tambah perih dihati ini, Laena?

**

Defan. Ternyata lelaki itu bernama Defan. Kutatap matanya dibalik kerumunan orang sepulang sekolah. Bersama buku – bukuku yang menumpuk. Defan masih tersenyum dengan bahagia. Walau bukan untukku.
Rasa dihatiku masih ada. Dia selalu ada. Walaupun memang seharusnya aku melepasnya. Namun, biarlah waktu yang menjawab. Jika dia adalah cinta pertamaku, terima kasih. Terima kasih kau telah membuatku belajar bagaimana cinta itu tumbuh disudut hatiku. Defan. Jika dia adalah rasa sakit hati pertamaku, terima kasih atas itu semua. Laena. Namun, semua butuh waktu. Rasa ini akan hilang tak secepat rasa itu tumbuh. Jika aku mengagumi Defan, maaf. Hatiku masih tak mau diam untuk itu. Proses ini masih panjang. Walaupun kau miliknya. Walaupun cintamu miliknya. Aku akan selalu mengaguminya walau itu gila. Bagaimana arti rasa ini selalu berarti bagiku.

Maximum Reaction

Entah kau tahu atau tidak, kalian mulai menjadi bagianku. Bagian yang tak terlepas dari persahabatan kita ini. Semuanya seperti biasanya. Tak ada yang berbeda dari persahabatan kita dengan yang lainnya. Kita pada umumnya. Bermain selepas sekolah. Berbincang di setiap ada celah kita untuk berbicara. Berbicara tentang apapun. Apapun!. Mulai dari hal – hal kecil hingga hal – hal besar sekalipun kita bicarakan. Hal simple, hal rumit, itu menyenangkan. Bercanda tertawa bersama. Menangis tersedu dalam duka. Kita memang bersahabat. Bagiku kita adalah sebuah persahabatan. Bagiku.
Semuanya butuh proses. Begitupun kita. Namun setelah kudalami, bukan kita. Tapi, AKU. Aku yang butuh proses untuk masuk kedalam kalian. Proses yang entah butuh berapa lama lagi. Mungkinkah hingga ku jenuh? Ku tak tahu. Tak lagi tahu.
Namun sebenarnya kita melupakan satu proses. Proses balik. Proses kesetimbangan tak bisa kita raih. Ku selalu bereaksi namun kalian tak mampu bereaksi untukku. Hanya aku. Hanya diriku. Tenggelam dalam kelelahan.
Kini kusadari. Inilah yang terbaik. Aku mundur untuk kalian. Aku lelah dengan kalian. Jika memang ini adalah peristiwa bertepuk sebelah tangan, biarkan ini berlalu. Bila ini akan menjadi luka, sembuhlah secepatnya. Agar kalian tak terganggu. Aku terpisahkan.

Melewatkanmu

Hari – hari indahku segera dimulai. Seperti pelangi setelah hujan. Kau indahkan hari – hari kelamku. Kau warnai jiwaku dengan berbagai warna yang kau berikan. Kurasakan hal indahku memang datang. Kenangan – kenangan indah yang kita buat takkan ku lupakan selamanya.
Aku tak sanggup menatapnya. Benar – benar tak sanggup. Kali ini aku ingin. Sejenak saja ku ingin menatapnya lebih lama dari sebelumnya. Ku lihat matanya. Alur wajahnya. Senyumannya. Ahh, indahnya. Kau hanya tersenyum ketika aku termangu dihadapanmu.
“Hey!” ucapnya sambil melambaikan tangannya di depan mataku. Akupun terbangun dari lamunanku dihadapannya. Membuatku tersipu malu. Walaupun dihadapannya, aku masih memikirkannya. Ahh, ini gila. Aku temukan sisi lain hidupku bersamanya. Ku hilangkan segala keegoisan hidupku hanya untuknya.
Disini. Ditempat inilah kutatapmu lebih lama. Dibawah pohon rindang kita selalu bercanda. Selalu tertawa dengan apapun yang ingin kita tertawakan. Berbagi suka. Berbagi duka. Bersamamu. Selalu itu yang ku mau.
**
Disini. Ditempat inilah ku kehilanganmu lebih lama. Dibawah pohon rindang yang penuh kenangan indah. Kau akhiri kenangan ini dengan ucapan tak masuk akalmu bagiku. Kau akhiri janji kita berdua. Tak ada mata indah itu dimatamu kali ini. Tak ada senyuman indah itu diwajahmu kali ini. Takkan ada lagi dirimu.
“Maafkan aku. “ Kau pergi. Menjauh dari hidupku. Tak ada kau di setiap hariku. Di hari – hari ku selanjutnya. Tak pernah terpikirkan ku melewatkanmu di hari – hariku.
**
Hari indah itu telah berakhir. Kau memang pelangi. Datang setelah hujan dan kemudian hilang. Kau hanya fatamorgana. Kau kembalikan senyumanku setelah semua badai itu. Namun, kau jugalah yang kembalikan badai itu. Lebih dari sebelumnya.
Di bawah pohon rindang itu, kau masih selalu datang. Walau kini kau sendiri tetap dengan senyumanmu. Namun, mengapa sulit bagiku untuk menyapamu sekali saja. Padahal aku pun selalu datang ke bawah pohon rindang itu. Mengulang kenangan indahku bersamamu.
Ku melihatmu dibalik pohon rindang lain. Ketika kau datang, hatiku masih membuncah. Rasaku masih sama. Rambutmu yang terhembus angin, takkan pernah  kulupakan. Disini. Dibalik hati yang membisu ini. Aku merindukanmu.
**
Mencoba melupakanmu . Takkan mudah bagiku. Selalu terhenti dibatas senyumanmu. Aku mencoba. Namun, aku masih tak bisa melupakan kenangan indah itu. Hari ini ku datang lagi untuk melihatmu di bawah pohon rindang kita. Aku tunggu dengan perasaan waspada. Takut kau melihatku.
Kau sepertinya terlambat datang hari ini. Mungkin sepertinya kau tidak datang hari ini. Akupun maju ke arah pohon rindang itu. Lalu aku berjalan di tepian danau itu. Melihat pancaran cahaya pagi itu.
“Hey!” seseorang mengagetkanku. Akupun berbalik. Dirimu. Dirimu datang. Kau datang menenmuiku. Kau masih mencintaiku kah? Hatiku membuncah. Namun kau membuatku termangu.
“Wanita ini penggantimu. Aku takkan kembali padamu meskipun kau menungguku di balik pohon lain itu.” Matanya tak memandangku. Aku ingin berlari. Tetapi, kakiku gemetar dan tak bisa bergerak. Bibirku membisu. Wanita itu. Mataku perih melihatnya. Tanpa sadar, kakiku melangkah. Lebih cepat. Aku berlari. Pergi ke bawah pohon rindang dimana aku selalu melihatnya. Air mataku menetes. Sedikit demi sedikit. Dirimu. Sengajakah kau lakukan ini? Mengapa kau lakukan ini? Padaku? Pada wanita yang mencintaimu dengan tulus?. Ku coba melihatmu lagi dibalik pohon rindang ini. Melihatmu bersamanya. Melihatmu bahagia. Ku remas hati ini. Kau bawa ia bersamamu ke bawah pohon rindang kita.
**
Harusnya ku tlah melewatkanmu. Menghapuskanmu dari dalam benakku. Namun ternyata sulit bagiku. Merelakanmu pergi dari hatiku. Selalu ingin dekat tubuhmu. Namun aku tak bisa. Karena kau telah bahagia.
**
Hari ini aku datang lagi. Ke bawah pohon rindang itu. Untuk melihatmu bersamanya. Untuk melihatmu bahagia. Untuk hancurkan hatiku lebih dari yang kau mau.

Short Story

Kau adalah gumamanku
Didalam hari yang sepi
Di malam yang mendingin
Aku merindu

Jika nanti ku lihatmu
Disuatu hari
Ketika kau telah bersamanya
Aku akan berdoa
Sepenuh hatiku

Kau akan bahagia
Bersamanya
Bersama yang ditakdirkan bersamamu

Akupun akan bahagia
Bersama dia
Dia yang ditakdirkan bersamaku

Kita hanya sepenggal kisah
Masa lalu dalam hidupku
Tentangku yang menunggu
Tentangmu yang meninggalkanku

Mati Rasa

Hmm..
Apa rasanya ketika kau lelah dengan semua yang kau sebut cinta?
Apa itu cinta?
Baikkah?
Burukkah?

Aku ingin kau tahu bahwa aku tak ingin merindumu lagi.
Aku tak ingin selalu terbelenggu oleh kenanganku bersamamu.
Aku ingin memulai sesuatu yang baru.
Kehidupanku masih terus berlalu.

Aku tak ingin kita berdua menjadi seperti ini.
Aku ingin kita layaknya teman seperti biasa.
Bukan saling menjauh dan menyakiti.

Aku memang bukanlah orang yang kau inginkan.
Tapi, aku ingin kau tahu bahwa
Aku masih temanmu.
Aku masih sahabatmu
Yang memberikan dukungan untukmu.
Yang menganggapmu ada.

Bisakah sekali lagi kau kembali?

Lamunan Jum’at Sore

Hello.
Here is my selfnote one.
I always remember this to do everything.

Apakah untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat, kau harus meminta izin manusia lain terlebih dahulu? Apakah untuk menjadi sesuatu yang berharga, kau harus mengharapkan perhatian manusia lain terlebih dahulu? Apakah untuk menjadi dirimu sendiri, kau harus menyingkirkan orang lain?

Tidak kawanku. Tak pernah aku katakan seperti yang kau maksud.
Kau hanya butuh keridhoan-Nya. Kau diciptakan bukan untuk sia-sia. Kau akan selalu bermakna. Kau akan selalu berharga. Untuk siapapun. Jangan pernah bersedih. Jangan pernah berkecil hati. Kau bahagia sebagai dirimu sendiri.
Tapi, satu kunci yang perlu kau pegang.
“Jangan pernah berharap orang lain menganggapmu berharga. Jangan pernah mengharapkan dirimu bermakna bagi orang lain. Karena, ketika kau berharap pada manusia, kau akan lupa apa arti bahagia menjadi dirimu sendiri.”

AGRIVERSITY 2015: Truth or Dare


When new member come, we must welcoming them, right? So do we!
We must make a welcoming party that we do over one month to make them know what we are, what we do, and what must they do after entered Agribusiness. It is our culture.
Then we called as Agriversity.
Agriversity 2015 is a special event for us (2014 students). Why? Because, we are the project officer of this biggest annual event in Agribusiness Unpad. Agriversity 2015 is very special and memoriable for me. Great and Bad experience at once. The first time for me did a job as Chief of Marketing Officer.
How was it?
We start our story from the first time.
Everything begin from December 2015. First, we must choose who will be the project officer of our event. Our President, Gizdy Chalifa, told us to send a delegate from everyclass (A, B and C) to be choosed as Project Officer for LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan). From A’s Class delegated M. Esa. From B’s class delegated M. Fadli. And from C’s class delegated M. Azka. Alright, everybody use M. In front of his name wkwk.
Unfortunately, not everybody come when the choosing time was started. Only an half plus one that come to choose. And it was do in front of B’s class. So, almost of them is B’s student. It must be luckily for Fadli, I  think. 
We must close our eyes and raise our hand to who we choose. When Gizdy told the number, we raise as we choose. And it is our culture too. When the choosing time was finished, name of our project officer was choosed. He is M. Fadli from B’s class. The truth is come over!
Is we choose the right one? We hope. Lets see.
After that, he choose the core staff for this event. Hmm, I want to be an secretary or finances. Everyone want to got that position. Im not hopeful to got that one because I think I can got that in another place. Someday. Then, the truth come. Im not got one of them.
But.
Luck or bad luck, I got couple of them. I choosed as Chief of Marketing Officer. That was great. It was very good. I’ve got everything at once. So, it must be what I really thankful. 
But, how about the reality?
It was the great experience. Im so amazed. Im so thankful. How could I say?
“Ini adalah pengalaman terbaik dan terburuk di dalam hidupku.”
Dare is I try. I want to try new thing. But, I forgot about the truth.
Truth is I dont know anything about that, but I choosed as a leader. So, why they choose me? I really love about business. But, I dont know anything about sponsorship and everything behind them. It was confused me. It was make me bad. It was make my personality fall into pieces in front  of my friends. Its still make me bad ‘till today.
Bad luck of me.
“Surat izin baru ada H-7 acara. Proposal baru ditandatangani H-7 acara. Proposal Sponsorship sudah ada sejak H-30 acara. Tapi, yang aku tahu, proposal sponsorship itu harus satu paket dengan surat izin kegiatannya. Kalau surat kegiatannya belum ada, tidak ada yang bisa aku lakukan selain mencari cara menghubungi sponsor yang mungkin.”
So, what should I do?
I do every good chance to take as much as money.
Luckily, Allah has gave me so much idea to do.
Garage Sale 1
Garage Sale 2

Fund Raising
Nasi Uduk
Everything I do.
We got 1.500.000 in 3 weeks. Alhamdulillah =))
Also, it was great when we could got Garudafood as our Speakers.
Then, what we’ve got after we got bad comment? Nothing. Day by days go as usually.
“Orang-orang begitu mudah berkomentar buruk tentang ini dan itu. Sebelum berkomentar, bisakah dia merasakan satu menit saja menjadi orang yang dikomentari? Bisakah mereka membantu mencari solusi? Atau setidaknya mengapresiasi usaha yang telah kita lakukan?”
Luckily, I’ve got the best team ever!.
Annisa Pratiwi (Keke). Nadira Desiana Yashinta (Dira). Deira Rizqa Anzila (Zia). And. Deilla Tsamrotul Fuadah (Dei).
They are my miracle!
—————-
Let me give you what I’ve got.
I know today.

 “Harta dan jabatan adalah hal yang sangat menggiurkan. Terutama jika itu datang dengan menawarkan dirinya sendiri. Kadang kita bisa melupakan hal-hal di depan. Alasannya pada satu kalimat,”Selagi ada kesempatan.”. Sampai kau bisa lupa untuk melakukan keputusan yang bijak. Karena, kau sebenarnya tidak tahu kesempatan mana yang benar kau ambil dan tidak sampai kau merasakannya. Yaa, kedepannya, aku akan lebih bijak lagi dalam mengambil keputusan. Tidak lagi mengandalkan hawa nafsu. Tapi mengandalkan niat yang tulus dan maksimalitas dalam menjalankannya.”

If we look to others opinion.
“Bukankah yang pada akhirnya yang bisa orang rasakan dari kinerja kita adalah ketulusan, kesetiaan dan kinerja yang maksimal?”
Dont worry. Its okay for today. It has gave you great experience and knowledge for you to take another wise chance in other time. Smile. Be happy! Be wise then Sheil!
—–
Thankyou for everysupport from people around me! I can’t told you one by one. But, you are my everything!